Minda Presiden

Published in Minda Presiden

Gelombang Age of Anger Featured

Mar 05, 2018 Hit: 225 Written by 
Gelombang Age of Anger

Di sebalik segelintir kisah-kisah kejayaan para CEO, enterprenuer dan innovator era Revolusi Industri 4.0 yang seringkali dipaparkan menerusi majalah korporat seperti Forbes, gelombang baru ini juga secara langsung telah mewujudkan dampak besar terhadap kehidupan generasi muda.

Hakikat ini diperakui sendiri oleh pengasas dan Ketua Pegawai Eksekutif (CEO) Facebook, Mark Zuckerberg dalam ucapan pentingnya di Universiti Harvard pada Mei 2017:

“But today, we have a level of wealth inequality that hurts everyone. When you don’t have the freedom to take your idea and turn it into a historic enterprise, we all lose. Right now our society is way overindexed on rewarding success and we don’t do nearly enough to make it easy for everyone to take lots of shots. Let’s face it. There is something wrong with our system when I can leave here and make billions of dollars in 10 years while millions of students can’t afford to pay off their loans, let alone start a business”.

Dalam kesenjangan kek ekonomi yang tidak rata pada ketika ini, kegagalan untuk bersaing untuk meraih kejayaan dalam kancah liberal kapitalisme sepertimana yang sering dimomokkan, mengakibatkan manusia kini dirudung dengan tekanan emosi, kesempitan hidup dan kemarahan.

Seperti yang diamati oleh Pankaj Mishra, pada ketika ini kita sedang mendepani era Age of Anger di mana manusia berdepan dengan krisis ressentiment (rasa tidak puas hati yang membuak-buak) dan situasi anomie (tidak menentu) pada skala global, yang ditandai dengan berleluasanya kebencian, rasa tamak haloba, ketaksuban, fanatisme dan rasisme. Justeru gejala ekstremisme yang terzahir melalui ISIS (DAESH) misalnya, ialah manifestasi kebencian dan kemarahan terhadap dunia; yang dipersepsikan sebagai tidak adil dan saksama kepada semua manusia.

“Savage violence has erupted in recent years across a broad swathe of territory: wars in Ukraine and the Middle East, suicide bombings in Belgium, Xinjiang, Nigeria and Turkey, insurgencies from Yemen to Thailand, massacres in Paris, Tunisia, Florida, Dhaka and Nice. Conventional wars between states are dwarfed by those between terrorists and counter-terrorists, insurgents and counterinsurgents; and there are also economic, financial and cyber wars, 11 wars over and through information, wars for the control of the drug wars over and through information, wars for the control of the drug trade and migration, and wars among urban militias and mafia groups. Future historians may well see such uncoordinated mayhem as commencing the third – and the longest and strangest – of all world wars: one that approximates, in its ubiquity, a global civil war. Unquestionably,” (Pankaj Mishra, Age of Anger: A History of the Present)

Salah-satu manifestasi penting berleluasanya sikap amarah ini, berpunca daripada apa yang diistilahkan oleh Pankaj Mishra sebagai angry tribalism dan tribalist hatred of minority. Gejolak amarah ini antara lain jelas terzahir den meningkatnya fenomena politik populisme, yang disemarakkan oleh demagog seperti Presiden Amerika Syarikat, Donald Trump.

Gelombang amarah ini terus disemarakkan ke seluruh dunia oleh para politikus demagog seangkatan dengannya. Walhasilnya, api kebencian mula membakar dan memerangkap kita di dalam lingkaran radically insecure world. Dampak penting daripada dua supertrend yang mencirikan semangat zaman ini – acceleration dan anger; ialah semakin terserlahnya jurang dan kesenjangan kelompok elit vis-à-vis massa, merentas batas geografi.

Dalam susuk Donald Trump misalnya, elit penguasa telah menyatu bersama dengan elit ekonomi, membina satu persekongkolan ampuh untuk mendepani rakyat terbanyak. Ini sekaligus telah merubah samasekali makna di sebalik, batas yang membentuk sempadan etika politik yang berasaskan pengasingan kuasa. Susulan dari itu tercetuslah apa yang diistilahkan oleh Naomi Klein sebagai New Shock Politics – sejenis gerakan baru politik pemerintah yang menggunakan taktik kejutan merangkumi apa saja - politik, ekonomi, sosial, bahkan malapetaka.

Amalan shock politics ini telah menimbulkan satu suasana yang penuh dengan kejutan, kekeliruan, ketakutan dan kebergantungan rakyat kepada pemerintah, yang kemudiannya menjustifikasikan setiap perampokan ke atas khazanah negara atas nama pertumbuhan yang “indah”: pertubuhan ekonomi, kemajuan, keamanan, keharmonian dan perpaduan. Matlamat akhir orde baru shock politics ala-Trump ini, ialah untuk menggandakan semaksimanya, laba dan kekayaan hanya dalam kalangan kelompok 1% elit pemerintah dan pedagang, selagi mana mereka memegang tampuk kekuasaan.

Last modified on Monday, 05 March 2018 05:02
Read 225 times
Rate this item
(0 votes)